Masuk Ke dalam Bumi, Bikin Lupa Hari

Artikel ini Pernah di muat di Majalah INTISARI edisi Juni 2009

Oleh: Jamaludin

Melakukan kegiatan di alam bebas, sekarang ini sudah bukan menjadi hal yang heroik lagi. Mendaki gunung, panjat tebing, arung jeram, menyelam sudah banyak penggiatnya di sana-sini. Setiap orang pasti berlomba-lomba mencari sesuatu yang berbeda untuk mengenal ciptaan Tuhan dari dekat dan berlomba-lomba untuk melakukan kegiatan yang lebih ekstreme lagi. Udara, darat dan laut pun di hadapi untuk mencari tantangan. Kegiatan di alam bebas semakin berkembang. Ada satu kegiatan lagi yang mulai berkembang yaitu telusur gua. Kegiatan yang satu ini berbeda dengan kegiatan di alam bebas lainnya yang biasa di lakukan di alam terbuka. Akan tetapi, telusur gua di lakukan justru di dalam bumi dengan merambah setiap lorong-lorong yang ada di dalam.

Goa Buniayu, Sukabumi Jawa Barat

Kalau di lihat dari aspek keselamatannya, justru kegiatan telusur gua ini termasuk jenis petualangan yang sangat berbahaya. Kenapa demikian? Karena kita tidak mengetahui ada apa di dalam bawah tanah yang gelap itu. Ini yang menjadi sebuah tantangan bagi seorang caver (sebutan bagi penggiat telusur gua) untuk berpetualang di dalamnya. Kegiatan penelusuran gua merupakan sebuah rangkaian kegiatan yang kompleks. Ada panjat tebing, Arung jeram, dan menyelam. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan keahlian khusus sebelum memulainya.

Kegiatan penelusuran gua di perkenalkan di Eropa sejak 200 tahun yang lalu dan dalam sejaran tercatat penelusuran pertama kali di lakukan oleh Louis Marsalliers, dia menuruni gua vertikal di Languedoc Prancis pada tanggal 15 Juli 1980. Dia melakukannya untuk kepentingan ilmiah. Baru kemudian di lakukan penelusuran gua yang lebih terencana yang di lakukan oleh Eduard Alfred Martel yang menggunakan peralatan lengkap. Karena usahanya itu Martel di kenal sebagai “Bapak Speleologi Modern”

Di Indonesia kegiatan penelusuran gua juga mulai berkembang seperti kegiatan outdoor lainnya. Potensi-potensi wisata minat khusus ini sangat didukung dengan banyaknya wilayah-wilayah gua-gua alami yang dapat di eksplore keindahannya. Dimulai dari barat hingga timur Sumatera, sepanjang pulau Jawa dari jawa barat sampai jawa timur, wilayah kalimantan, Sulawesi di Maros, Nusa tenggara hingga daerah Papua. Dengan berbagai jenis karakteristik gua yang berbeda-beda.

WISATA MINAT KHUSUS TELUSUR GOA “GUA BUNI AYU, SUKABUMI JAWA BARAT”

Gua Buniayu merupakan salah satu gua wisata yang masih alami di daerah Jawa barat. Lokasi gua yang mudah di tempuh dengan kendaraan, karena letak pintu masuknya berada di pinggir jalan menuju daerah Sagaranten. Untuk memasuki kawasan gua Buniayu cukup membayar 3000 rupiah kepada pihak PERHUTANI. Hanya berjalan kaki sekitar 1,5 km dari pintu gerbang kita bisa tiba di loket perizinan. Paket-paket wisata yang disajikan pun cukup menarik. Kita bisa menikmati gua horizontal dengan paket wisata 1 jam dengan membayar 6000 rupiah, yang di dalamnya sudah di lengkapi dengan lampu-lampu hiasan di dalam gua. Paket petualangan yang lebih menantang dengan menuruni gua vertikal dengan paket harga 60 ribu, biasanya untuk paket yang satu ini di peruntukan untuk yang sudah ahli dan berpengalaman menuruni gua dengan tehnik SRT (Single Rope Technique). Namun, bagi pemula yang belum pernah pun boleh mengambil paket yang satu ini dengan di bekali pengetahuan tali temali dan tehnik penurunan gua sebelum memulai eksplorasi.

Goa Buniayu, Sukabumi Jawa Barat (Dokumentasi Mapala UI)

Gua ini sangat cocok bagi para penggiat penelusuran gua, khususnya bagi para pemula. Tingkat kesulitannya pun masih terbilang aman untuk di lakukan bagi pemula. Seperti halnya yang dilakukan Mapala UI saat memperkenalkan kegiatan penelusuran gua bagi para calon anggotanya pekan lalu. Satu hal yang sangat penting dan harus diperhatikan yaitu memasuki gua ketika hujan. Sangat berbahaya sekali memasuki gua sewaktu hujan apalagi durasi hujan yang lebih dari 1 jam karena air hujan dapat dengan cepat memenuhi setiap lorong dalam gua. Sebagian besar lorong yang ada di kawasan gua Buniayu terdapat sungai bawah tanah. Oleh karena itu, sangat wajar ketika memasuki gua banyak bermain dengan lumpur.

Di dalam gua kita bisa menikmati pemandangan bentukan gua yang indah dan beraneka ragam seperti stlagtit, stalagmit, Flow Stone (Batu alir), Curtain (bentukan yang seperti lembaran berlipat yang menggantung di langit-langit gua atau dinding gua) dan macam-macam relief lainnya. Selain itu kita juga dapat menemukan kehidupan bawah tanah seperti Lipan, Kalajengking, Kodok, Ikan, Kelelawar dan serangga-serangga kecil lainnya. Sebagian besar tidak dapat melihat atau buta karena sudah berevolusi dengan kehidupan gelap di dalam gua.

Selain keindahan gua, kita juga daopat menikmati pemandangan yang ada kawasan wisata buniayu yang lainnya, salah satunya air terjun Bibijilan yang letaknya sekitar 2 km dari tempat pendaftaran atau dapat ditempuh dengan berjalan kaki 20 menit. Di Buniayu juga sudah di siapkan lahan untuk kita yang ingin bermalam mendirikan kemah dengan lokasi bumi perkemahan yang cukup luas dan dilengkapi dengan MCK yang memadai.

Persiapan sebelum menelusuri gua

Harus kita ketahui, kegiatan penelusuran gua merupakan kegiatan yang cukup berbahaya. Kita bergiat di alam yang berbeda dengan kehidupan kita. Kita memasuki lorong-lorong bawah tanah yang kita tidak ketahui apa isi didalamnya. Oleh karena itu, sebelum melakukan kegiatan penelusuran gua sebaiknya kita mempersiapkannya lebih matang agar kita dapat menikmati penelusuran dengan aman.

Hal yang paling utama adalah kondisi fisik yang fit. Dengan fisik yang fit, dengan leluasa kita dapat menikmati petualangan tanpa adanya hambatan. Kualitas udara di dalam gua sangat buruk akrena di penuhi kotoran kelelawar dan juga kelembaban udara di dalam gua sangat tinggi. Hal ini dapat dengan mudah bagi para penggiat terserang penyakit paru-paru.

Penelusuran gua merupakan suatu kegiatan petualangan yang tidak diperkenankan untuk lakukan sendiri. Ini bukan merupakan kegiatan yang individualis, penelusuran gua merupakan kegaitan yang membutuhkan kerja tim. Menurut etika penelusuran gua, untuk melakukan penelusuran gua minimal ada 4 orang dalam satu tim. Pembagian kerjanya yaitu satu orang untuk menjaga entrance gua (mulut gua), dan 3 orang yang melakukan eksplorasi di dalam gua. Hal ini di dasarkan atas pertimbangan, jika ada kecelakaan pada salah satu orang maka 2 orang lainnya mempersiapkan pertolongan (rescue). Dan tugas penjaga entrance, sebagai pemberi informasi yang ada diluar untuk orang yang sedang eksplorasi. Misalkan jika cuaca yang buruk diluar terjadi penjaga entrance memberikan peringatan terhadap orang di dalamnya. Oleh karena itu, jalur komunikasi antaranggota sangat penting. Jadi, dengan alasan apapun jangan pernah untuk melakukan eksplorasi gua sendirian.

Untuk melakukan penelusuran gua horizontal kegiatan yang dilakukan di dalamnya adalah membungkuk, merangkak, terlentang, berenang bahkan menyelam. Kelenturan tubuh bagi seorang caver sangat dibutuhkan. Selain itu ada perlengkapan wajib yang harus dibawa dalam penelusuran gua horizontal yaitu Helm, Sling, Cover all (pakaian khusus yang menutupi seluruh badan) atau dengan pakaian yang menutupi tangan dan kaki, ransel ini untuk perlengkapan individu dan untuk perlengkapan tim yaitu perahu karet, tali, kamera dan kompas. Untuk tali dan perahu karet di persiapkan untuk jaga-jaga kalau di dalam gua ada medan yang harus di lalui dengan menggunakan peralatan tersebut.

Berbeda dengan perlengkapan untuk penelusuran gua horizontal, peralatan dan perlengkapan untuk penelusuran gua vertikal lebih kompleks lagi. Hal yang paling utama yaitu seorang caver harus menguasai tehnik penurunan gua, sampai saat ini yang paling sering digunakan dengan menggunakan SRT (Single Rope Technique) yaitu tehnik penurunan dengan mengandalakan satu buah tali kernmantel jenis statis yang menjuntai kebawah gua dan sangat ditekankan untuk menyimpul ujungnya, agar jika tali tidak mencukupi orang yang menuruni tali tersebut tidak terjun bebas dan dapat menyambungkan tali lagi agar sampai ke dasar gua.

Peralatan individu yang dibutuhkan untuk SRT antara lain : peralatan naik (Footloop Jammer dan Chest Jammer), Peralatan turun (Autostop decender, Bobin Descender, Rack) dan peralatan penunjang (Sit harness, Chest Harness, lingking maillon, cowstail, footloop, carabiner, helmet, delta maillon atau maillon rapid (MR), dan perlengkapan timnya yaitu tali kernmantel, perahu karet, kamera dan kompas). Selain perlengkapan diatas seorang caver juga haru menguasai tali temali, bagaimana membuat anchor agar tidak mengalami gesekan dengan tebing saat menuruni tali, membuat simpul dan sistem rescue (Z rig dan hauling).

Yang terpenting dari semua itu adalah sering melakukan latihan, baik itu latihan fisik maupun latihan tehnik-tehnik. Semakin sering kita melakukan latihan maka akan mempermudah kita dalam melakukan eksplorasi. Ada beberapa etika yang harus dilakukan oleh setiap penelusuran gua dimana pun yaitu take nothing but picture, leave nothing but footprint, kill nothing but time. Karena jika kita melakukan kesalahan didalam gua maka akan berdampak besar sekali, seperti menghancurkan stalagtit atau stalagmit hanya dalam waktu beberapa detik saja sedangkan untuk membentuk setiap milimeter itu membutuhkan waktu hingga ratusan tahun lamanya. Akan kemana lagi kita akan melakukan petualangan untuk menikmati keindahan sang pencipta, kalau setiap kali kita melakukannya hanya untuk merusaknya.

Penulis adalah anggota Mapala UI

Daftar Istilah

Footloop Jammer : Alat ini akan digunakan oleh tangan untuk menarik beban badan, dihubungkan dengan webbing ke sit harness, sehingga juga menjadi pengaman kita

Chest Jammer : Alat untuk naik yang prinsipnya hampir sama dengan Jumar, namun bentuknya lebih ringkas (tidak ada pegangan untuk tangan), dan dihubungkan langsung dengan Sit Harness dan Chest Harness, selain sebagai alat naik, juga berguna untuk menjaga agar badan tetap sejajar dengan tali. Chest Jammer keluaran Petzl biasa disebut Croll yang memang sudah dirancang untuk kepentingan SRT.

Autostop Descender : alat turun yang paling aman untuk digunakan dalam melakukan SRT dilengkapi dengan sistem kunci otomatis, dan dapat dipasang tanpa melepaskannya dari kaitan ke harness.

Bobin Descender Alat yang dikeluarkan Petzl ini, dikhususkan penggunaannya untuk menuruni tali pada SRT, yang digunakan adalah Bobin Single Rope. Bobin digunakan oleh orang yang sudah terbiasa menuruni tali dengan SRT, karena tidak memiliki kunci pengaman, kontrol kecepatan diatur oleh tangan kita.

Croll : Alat yang fungsinya sebagai pengaman saat berada di tali, jika kita mendorongnya keatas maka alat ini akan mengikuti gerak tubuh kita dan alat ini akan menahan kita jika dibebani.

Jummar : Fungsinya sama dengan croll untuk menambah ketinggian dan menahan jika dibebani, yang dihubungkan dengan footloop. Pergerakan Jumar dan Croll merupakan dua alat utama yang digunakan dalam SRT, ketika badan kita menggunakan Croll sebagai pengaman, dalam artian beban kita bergantung di Croll, tangan kita dapat menggunakan Jumar untuk menambah ketinggian.

Sit Harness : Harness yang didesain untuk dipakai nyaman saat posisi duduk.

Chest Harness : Harness yang dikenakan di dada, berguna untuk menempatkan croll agar posisi tubuh tetap sejajar dengan tali.

Safety link atau Conecctor : tali kernmantel penghubung berukuran 9 mm yang berfungsi sebagai pengaman yang dihubungkan antara jummar dan footloop jammer dengan sit harness.

lingking maillon Semacam karabiner tetapi tidak memiliki sebuah gate (pintu dengan per) Linking Maillon gunanya sebagai penghubung foot-loop jammer dengan foot-loop dan safety link.

Cowstail : Sebagai pengaman pada saat melewati sambungan tali dan pindah anchor, waktu menuruni tali atau menaiki tali

Footloop : Digunakan waktu naik meniti tali

Carabiner : Oval karabiner digunakan untuk cow’s tail sedangkan oval screw gate karabiner untuk descender. Pada umumnya dalam penelusuran gua vertikal digunakan ‘oval screw gate carabiner’

Helmet : Pelindung kepala dari bebatuan atau kejatuhan benda.

delta maillon : Delta maillon 10mm adalah main attachment. Terbuat dari baja (steel) atau aluminium. Main attachment merupakan tempat utama untuk berbagai kaitan/sangkutan. Selain untuk mengunci sit harness, delta maillon juga untuk mengkaitkan croll, security link, cow’s tail dan descender. Untuk posisi main attachment tidak pernah digunakan carabiner.

Z rig : Suatu sistem tali yang dibuat dengan membentuk sistem berbentuk angka z yang fungsinya untuk memperingan beban hingga menjadi 25 persen dari beban semula.

Hauling : Sistem tali yang dibuat dengan menggunakan katrol, fungsinya untuk memindahkan barang dari atas kebawah atau sebaliknya.

Anchor : Sebuah titik keamanan yang kuat untuk menahan tali yang menjuntai kebawah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s